Semua Tentang Sejarah Indonesia

Sabtu, 12 April 2008

Kehadiran Nazi di Indonesia

Pagi-pagi buta tanggal 1 September 1939, Komando Tertinggi Jerman Mengeluarkan perintah harian yang berbunyi:

“Saat penuh cobaan telah tiba. Tatkala semua upaya lain telah habis, maka senjatalah yang harus memutuskan. Kami memasuki pertempuran ini dengan menyadari bahwa keadilanlah yang menuntun kami. Kami percaya akan Fuhrer, pemimpn kami. Maju bersama Tuhan, demi Jerman.”

Tidak ada suatu pernyataan resmi yang dikeluarkan, baik yang ditujukan untuk rakyat Jerman maupun dunia. Pengumuman pecahnya perang tersdasyat dalam sejarah umat manusia ini adalah dari dentuman-dentuman meriam kapal perang Jerman Schleswig Holstein.1 1,8 juta orang prajurit Jerman menyerbu Polandia dan mengawali pecahnya perang dunia II yang menghilangkan ratusan juta nyawa manusia, menariknya dari perang inilah perubahan peta perpolitikan militer secara drastis, singkatnya PD II membawa banyak perubahan dalam perangkat serta taktik militer.

Adalah Jerman yang melontarkan taktik perang serta persenjataan modern, seperti taktik Blizkrieg2 yang mampu menggulung raksasa Perancis dalam waktu singkat serta London yang dibuat hancur dengan roket V-1 dan V-23 dan Luhtwaffe (Angkatan Udara Jerman) menjadi pengguna pertama pesawat bermesin jet.

Karena itu walaupun Jerman keluar sebagai blok yang kalah dalam pertempuran ini namun Jermanlah yang justru merubah pola pikir perang kolosal menjadi modern dan untuk itu Jerman mutlak memerlukan sumber daya alam dan manusia yang handal.

Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Jerman memiliki darah dan naluri bertempur, setidaknya dapat dilihat dari kebrutalan nenek moyang mereka yakni bangsa Celt yang hidup di abad ke-2 sebelum masehi. Bangsa Celt memiliki catatan-catatan hebat diantaranya ketika berada di bawah tangan besi Charlemange pada tahun 800, yakni mendirikan Holy Roman Empire yang wilayahnya mencakup hampir seluruh bagian barat kontinen Eropa.

Pada abad ke-18, holy Roman Empire kembali bangkit setelah kekuatan kaisar Frederick dan Perdana Mentri Otto von Bismarck4 berhasil menundukkan Perancis, Austria dan Prussia. Imperium rancangan Bismarck inilah yang kemudia disebut-sebut sebagai Reich pertama, dengan kata lain basis Reich ketiga yang ingin dibangun Hitler.

Pasca PD I Jerman dikenai kewajiban membayar ganti rugi kepada Perancis dan Inggris dalam jumlah Besar sehingga menguras habis keuangannya dan menimbulkan kekacauan ekonomi yang berujung pada inflasi serta stagnasi. Namun kesemuanya ini dimanfaatkan oleh Adolf Hitler dan partainya Nazi untuk menarik simpati rakyat dengan janji dan slogannya untuk membangkitkan kembali kejayaan Jerman. Dictat von Versailles (Pendiktean Versailles)5 Sekutu untuk meniadakan ancaman Jerman dikemudian hari justru menjadi blunder sekutu dan dijadikan amunisi oleh Hitler untuk menguasai Jerman.

Adolf Hitler sejak mengambil alih kekuasaan di Jerman pada tanggal 1933 mempunyai ambisi membangkitkan kembali kejayaan militer Jerman yang dikebiri dan di pasung oleh perjanjian Versailles, perjanjian tahun 1919 yang dipaksakan sepihak oleh sekutu setelah Perang Dunia I berakhir yang benar-benar melucuti Jerman dari kekuatan militernya.

Setelah Hitler berkuasa, ia mengemukakan yang selama ini ada dalam bnenaknya, termasuk langkah untuk membangun kembali Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) yang besar dan kuat. Pihak militer tentu saja senang dengan rencana pembangunan kembali Angkatan Bersenjata Jerman yang telah dipangkas habis-habisan oleh perjanjian Versailles, maka bertemulah kepentingan dua pihak, Hitler dan Militer. Dengan janji pembangunan besar-besaran kekuatan militer Jerman. Meski dengan resiko melanggar Versailles pemimpin militer pun mendukung Nazi meskipun mereka sendiri resminya tidak berpolitik. Bahkan banyak diantara mereka yang sebetulnya tidak menyukai ideologi maupun sepakterjang Nazi6.

Demi memenuhi ambisinya membangun Reich ke tiga yang menguasai Eropa serta mengembalikan kejayaan Jerman, Hitler kemudian memerintahkan industri persenjataan Jerman harus ditingkatkan kemampuannya untuk menghasilkan senapan, meriam, tank serta berbagai senjata dan kendaraan lainnya.

Walaupun saat itu Jerman sedang dalam keadaan kacau namun Jerman masih memiliki beberapa industri besar maupun kecil yang semua akhirnya diubah fungsi, seperti Volkswagen yang semula memproduksi mobil rakyat beralih fungsi menjadi penyedia alat-alat militer, kemudian Krupp dan IG Farben diminta meningkatkan produksi baja dan barang kimia. Semua industri bekerja dengan kapasitas penuh. Dari pabrik-pabrik inilah keluar hasil produksi berupa tank, truk, meriam, senapan, karet sintetis dan lain-lain. Mereka dengan cepat mampu menyediakan persenjataan tersebut7.

Tahun 1939-1940 merupakan tahun kejayan bagi Jerman Nazi. Polandia dapat digulung Hitler kurang dari 3 minggu tepatnya 17 hari. Kemudian Perancis dapat ditaklukkan hanya melalui pertepuran selama lima hari. Lalu berturut-turut negara-negara Eropa berlutut di bawah Jerman, begitu pula dengan Belanda yang dikalahkan tahun 1940.

Kancah pertempuran Eropa rupanya berimbas juga pada keadaan di Hindia-Belanda. Bersamaan dengan ekspansi Jerman ke Belanda bulan Mei 1940, Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia menahan sebanyak 2.436 orang Jerman. Banyak diantara mereka merupakan pegawai kolonial, ahli budaya, insinyur, dokter, ahli minyak bumi dan juga diplomat bahkan seniman terkenal Walter Spies yang merupakan pendiri sekolah lukis di Bali juga ditangkap. Kemudian orang-orang Jerman ini dimasukkan dalam kamp pengasingan di Sumatra Utara8. Proses penangkapan ini berlangsung hingga penghujung tahun 1941.

14 Desember 1941 pasukan Jepang mendarat di Borneo (Kalimantan). Pemerintah kolonial yang saat itu sudah dalam keadaan genting, melihat bahayanya jika para tahanan ini jatuh ke tangan Jepang karena Jepang telah bersekutu dengan Jerman. Maka Pemerintah Kolonial memutuskan untuk membawa para tahanan Jerman tersebut ke India yang merupakan koloni Inggris dengan maksud menyerahkan tawanan tersebut ke tangan Inggris.

Pada tanggal 18 Januari 1942 berangkatlah tiga kapal berbobot 3000 ton yang membawa tawanan. Kapal terakhir yang berangkat adalah Kapal van Imhoff dari Sibolga, Sumatra. Celaknya kapal tersebut tidak menggunakan tanda palang merah. Sehingga keesokan harinya tanggal 19 Januari 1942 van Imhoff mendapat serangan dari 2 pesawat pemburu milik Jepang. Dalam keadan panik, pasukan Belanda yang ditugaskan menjaga tawanan melarikan diri dengan perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Sebelumnya pasukan belanda tersebut telah merusak perahu sekoci, pompa air serta alat komunikasi. Beruntung masih ada satu sekoci yang belum dirusak atau tidak sempat dirusak, maka tawanan Jerman tersebut menaiki perahu kecil itu. Dari 477 tawanan 411 meninggal dan yang berhasil selamat sebanyak 64 orang dapat selamat dan mencapai Nias sedangkan 2 orang lainnya meninggal sesaat ketika mencapai Nias.

Keesokan harinya mereka ditangkap oleh tentara Belanda dan di bawa ke penjara Polisi di Gunung Sitoli yang dijaga oleh tentara Belanda dan Polisi Indonesia. Polsi Indonesia tersebut terkejut setelah mereka mengetahui bahwa mereka menjaga orang Jerman, kemudian Polisi Indonesia dan para tawanan Jerman tersebut bersekongkol dan melakukan pemberontakan, hingga akhirnya berbalik memenjarakan tentara Belanda tersebut. Kemudian pada 17 April 1942 Jepang datang ke Nias dan menyelamatkan para orang Jerman itu dan mengembalikan mereka pada pekerjaan mereka dahulu. Sebelumnya orang-orang Jerman tersebut memproklamasikan kemerdekaan Republik Nias.

Tahun 1942 adalah tahun yang menentukan baik di medan perang Eropa ataupun Pasifik. Walaupun Jepang pada 8 Maret 1942 dapat mengalahkan Belanda di Indonesia namun pada setelah pertempuran di Midway (Juni 1942) dan kemudian di kepulauan Solomon (November 1942) yang mengakibatkan pengosongan Pulau Guadalcanal beberapa waktu kemudian, pamor Jepang di kancah Pasifik mulai merosot. Begitu pula dengan Jerman. Oprasi Barbarossa9 yang dilancarkan Hitler berbuah kehancuran bahkan dalam bulan Novenber 1942 pasukan Rusia yang dipimpin oleh Marsekal Zukov mengurung Jerman di Stalingrad dan pada bulan November itu pula Rommel10 dikalahkan oleh Montgomery di front Afrika. Puncak kemalangan Jerman terjadi pada bulan Agustus 1943 dimana satu-satunya kilang minyak Jerman di Ploesti, Rumania di bom habis-habisan oleh tentara udara Sekutu. Walaupun Ploesti tetap berdiri namun hampir 50% kilang tersebut mengalami kerusakan.

Namun rupanya Jerman telah mencium Sekutu akan menyerang Ploesti maka sebelumnya pada bulan Mei 1943 Kriegsmarine mengadakan persetujuan dengan Jepang. Inti persetujuan tersebut adalah untuk mengimport senjata perang yang ditukar dengan bahan baku seperti karet, minyak, timah, molybdan, wolfram dll. Kemudian di Jakarta Mayor Angkatan Laut Jerman, Dr. Herman Kandeler (yang juga merupakan wakil anggota diplomatik) meminta pada Jepang villa dan Perkebunan Helfferichs di Cikopo, Bogor diberikan kembali kepada Jerman. Maksudnya villa dan perkebunan ini untuk dijadikan tempat beristirahat awak U-boat yang telah mengalami pelayaran di bawah laut selama berbulan-bulan. Kemudian perkebunan ini diserahkan kepada Alber Vehring. Vehringlah yang menyediakan segala makanan selama awak U-boat tersebut berada di perkebunan. Dalam catatan hariannya Peter Marl (merupakan salah satu awak U-boat) mengatakan:

“Mereka bisa menikmati tempat itu, surga tropis dan bisa melupakan sejenak untuk waktu yang singkat kejamnya perang dan bahayanya pelayaran laut”.

Tercatat selama periode 1943-1944, sebanyak 42 kapal selam telah dikirim ke Indonesia. Bahkan U-180 telah dua kal dikirim. Namun hanya sedikit sekali yang dapat kembali dengan selamat ke Perancis mengingat tahun-tahun tersebut laut telah diasai oleh Sekutu.




Daftar Pustaka


Artikel dan buku


Adam, A,W., Pelurusan Sejarah Indonesia (Yogyakarta: Tride, 2004)


Anderson, Bendedict, Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia (Yogyakarta: Mata Bangsa, Tanpa tahun)


Budiardjo, Miriam, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa (Jakarta: Sinar Harapan, 1991)


Bennett, Geoffrey, The Pepper Trader: True Tales of the German East Asia Squadron and the Man who Cast the in Stone (Jakarta: PT. Equinox Publishing, 2006)


-----. Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 2003)


Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001)


Krug, Hans, Joachim, et al. Reluctant Allies: German-Japanese Naval Relations in World War II, (Annapolis: Naval Institute Press, 2001)


Hitler, Adolf, Mein Kampf, Jilid II


Hoogerwerf, A., Politikologi (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1985)


Ojong, P.K., Perang Eropa Jilid I (Jakarta: Kompas, 2003)


Ojong, P.K., Perang Eropa, jilid III (Jakarta: Kompas, 2005)


Rukardi, Gerakan Sawito: Perlawanan Mesianistik Terhadap Rezim Orde Baru 1972-1976 (skripsi Fakultas Sastra Undip, tidak diterbitkan, 2002)


Solihat, Kodar, Teknologi Senjata Jerman Banyak ditiru. (Bandung: Pikiran Rakyat, 2005)

Zahorka Herwig: Arca Domas-ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesia (tidak diterbitkan)



1 P.K. Ojong, Perang Eropa Jilid I (Jakarta,Kompas 2003) hlm. ix

2 Blitzkrieg berasal dari bahasa Jerman yang artinya Blitz (kilat) dan Krieg (Perang). Sedangkan Perancis saat itu masih terbuai dengan iklim Perang Dunia I sehingga masih menggunakan taktik Sitzkrieg, sebuat metode menunggu kedatangan musuh terlebih dahulu. Blitzkrieg merupakan hasil pemikiran Jendral Erich von Mainstein.

3 Roket V-2 merupakan cikal bakal peluru kendali modern masa kini. Rancangan dasar peluru kendali berdasar V-2, banyak dibuat pada zaman Perang Dingin antara Blok Barat (AS dan sekutu) dan Blok Timur (Uni Soviet dan aliansinya) tahun 1960-an-tahun 1980-an

Produksi roket V-2 mulai dilakukan tahun 1942 di Peenemunde dan mulai dicoba September 1944, saat NAZI Jerman mengerjakan dua projek senjata baru, di samping bom terbang V-1. Sosoknya yang membawa satu ton hulu ledak, memiliki panjang 14 meter, berbahan bakar cair, memiliki kecepatan supersonik, dan dapat terbang pada ketinggian sekira 50 mil, membuatnya menjadi senjata mengerikan yang sulit ditangkal. Untuk diskusi lebih lanjut lihat artikel Pikiran Rakyat Kamis 12 Mei 2005: Teknologi Senjata Jerman Banyak ditiru. hlm. 2; Kodar Solihat, “Perang Eropa, jilid 3”. (Jakarta: Kopas, 2005), hlm. 105; P.K. Ojong.



4 Nama Otto von Bismarck diabadikan dalam kapal tempur Jerman semasa PD II (Bismarck) yang berbobot 42.000 ton, terdiri atas delapan meriam 15 inci (berdiameter 38 cm) disamping itu dilengkapi pula dengan selusin meriam 15 cm dan merupakan salah satu kartu As Jerman pada perang laut melawan Inggris. Kedigdayan Bismark hanya bisa ditandingi oleh kapal tempur Repulse Inggris, akan tetapi meriam 38 cm hanya 6 buah, lapisan bajanya lebih tipis dan sudah berusia lanjut, 25 tahun.

5 Perjanjian Versailles (1919) adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November 1918 di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseturuan sesungguhnya. Salah satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara tertentu yang tergabung dalam Sekutu.

Di Jerman, perjanjian ini menimbulkan keterkejutan dan rasa malu yang berperan terhadap runtuhnya Republik Weimar pada 1933, terutama karena banyak orang Jerman tidak percaya bahwa mereka harus menerima tanggung jawab penuh sebagai pemicu perang. "Empat Besar" (Big Four) yang melakukan negosiasi perjanjian ini adalah Perdana Menteri David Lloyd George dari Britania Raya, Perdana Menteri Georges Clemenceau dari Perancis, Vittorio Orlando dari Italia, dan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika Serikat. Jerman tidak diundang ke Perancis untuk mendiskusikan perjanjian. Di Versailles saat itu, sulit untuk mencapai kesepakatan bersama karena tujuan mereka saling konflik satu sama lain. Hasil perundingan disebut-sebut sebagai suatu kompromi yang tidak disukai oleh pihak manapun. Untuk diskusi lebih lanjut lihat Perjanjian Versailles: http://id.wikipedia.org.



6 Rasa tidak suka ini berujung pada kebencian karena beberapa petinggi AD yang merasa bahwa Hitler justru membawa Jerman pada kehancuran. Terdorong hal itu beberapa kali percobaan pembuhan dilakukan oleh orang-orang Angkatan Darat namun Hitler selalu lolos dari maut. Bahkan tahun 1944 salah seorang Petinggi AD yakni Stauffenberg nekat membawa bom dalam ruang rapat Hitler. Walau bom bersebut meledak namun Hitler hanya mengalami luka-luka. Kemudian Hitler manjatuhi hukuman mati pada orang-orang yang terkait pemboman tersebut.

7 Banyak dari pabrik-pabrik ini yang sudah lama menyiapkan cetak biru untuk kapal perang, pesawat tempur, meriam, tank dll. Sehingga dalam waktu singkat Jerman bisa mendapatkan penambahan senjata yang signifikan.

8 Herwig Zahorka: Arca Domas-ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesia hlm. 2

9 Oprasi Barbarossa adalah nama offensife Jerman ke Rusia yang dimulai pada 22 Juni 1941 terlambat enam minggu dari yang direncanakan, karena blunder yang dlakukan oleh Musolini di medan peperangan Yunani.

10 Erwin Rommel dikenal juga sebagai Desert Fox atau Rubah Gurun karena ia menunjukkan keberanian serta kegigihannya di medan tempur Afrika bahkan hampir membuat Sekutu meninggalkan Afrika namun karena karena lautan telah dikuasai armada Inggris sehingga bantuan logistik tidak dapat berjalan lancar sehingga offensif Rommel dapat dipukul mundur kembali oleh Sekutu. Rommel sendiri selamat dari pertempuran Afrika dan kembali ke Jerman. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Rommel dipaksa melakukan bunuh diri oleh Hitler karena Hitler menduga Rommel bergabung dengan Jendral-jendral yang ingin melakukan kudeta.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda


 
Search Engine Optimization - AddMe

Add to Google Reader or Homepage