Semua Tentang Sejarah Indonesia

Minggu, 13 April 2008

Pelurusan Kembali Ajaran Marxis


Sejak tahun 1966-1998 bangsa Indonesia mengalami suatu bentuk pembodohan dari pemerintah Soeharto. ORBA manafsirkan pemahaman-pemahaman yang dianggapnya sebagai sesuatu yang membahayakan bagi kelangsungan kekuasaannya akan dicap sebagai suatu paham yang salah.

Pembungkaman yang dilakukan ORBA selama 32 tahun membuat pola pikir masyarakat menjadi sempit. Agaknya Soeharto berserta anteknya telah sukses melakukan suatu betuk brain wash pada jutaan rakyat Indonesia bahkan selama 32 tahun.

Pemahaman yang sempit jelas-jelas terjadi pada marxisme. Paham ini dianggap sebagi biang kekerasan, anti agama, biadab dan berbagai sebutan yang mencirikan paham ini adalah aliran setan.

Pemahaham yang salahpun bahkan timbul dari golongan komunis sendiri yang menafsirkan secara sempit pendapat Lenin bahwa agama adalah candu. Jika bisa menarik pemahaman Lenin secara lebih luas, ajaran agama sebagai candu adalah sindiran bagi kaum agamawan yang menggangap dengan banyak berdoa dengan sendirinya akan mengubah hidup mereka (Kaum Buruh) sehingga lebih menitik beratkan terjadinya hubungan antara Tuhan dengan Manusia dan mengesampingkan hubungan antara manusia dengan manusia padahal dalam ajaran agama Islam pun dijelaskan bahwa hubungan antara Tuhan dengan manusia dan hubungan antara manusia dan manusia haruslah berimbang. Lenin pun menjelaskan, jika sudah tercipta masyarakat yang makmur sentosa maka agama akan tumbuh subur dengan sendirnya.

Mamang benar Marx adalah seorang filsafat yang bersikap materialis serta tidak percaya terhadap tuhan. Tapi Marx menaruh simpati pada rakyat yang menganut agama. Untuk memahami sikap Marx yang sebenarnya kita harus memahami secara mendalam tulisannya yang berjudul “Kritikan Terhadap Falsafah Hegel” Dalam karya ini, kita menjumpai rumusan terkenal mengenai “candu masyarakat” tetapi dalam konteks khusus.

Di Jerman, Marx menulis, “kritikan terhadap agama dari segi umum sudah lengkap.” Dalam arti kata lain, kritikan tersebut sudah diutarakan oleh ahli-ahli falsafah yang mendahului Marx (kaum Hegelian Muda, terutamanya Feuerbach). Marx merumuskan kritikan mereka sebagai berikut:

“Dasar bagi kritikan sekular adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukannya agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum bertemu dengan dirinya sendiri atau telah kehilangan diri sendiri.”

Menurut Marx agama merupakan suatu ideologi yang tercipta dari manusia, tapi tidak menentang manusia menganut suatu agama bahkan ia mengatakan bahwa agama adalah suatu bentuk pencarian manusia akan kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum bertemu dengan dirinya sendiri atau telah kehilangan diri sendiri artinya jika manusia ingin menganut suatu agama maka harus dengan kesadaran diri tanpa adanya unsur keterpaksaan. Kemudian agama merupakan suatu pegangan bagi manusia yang telah kehilangan atau belum menemukan diri.


Cerminan Agama Dalam Masyarakat

Suatu hal yang mengundang keprihatinan ketika petani kecil hanya menjadi petani garapan saja. Namun suatu hal yang lebih memprihatinkan adalah umat beragama yang dan tokoh agama yang hanya berpangku tangan saja.

Ketika diteriakannya kembali agama sebagai candu maka hanya kesan negatiflah yang timbul karena memang hal tersebut menyangkut suatu keyakinan yang telah lama ada.

Tapi pada kenyataannya ditangan umat beragama saat ini, agama tidak mampu diperankan sebagai pembebas sosial bahkan hanya bisa menina-bobokan kesadaran masyarakan akan perbaikan hidup.

Saat ini tengah terjadi suatu passivisme beragama seperti yang ditujukan melaui sinetron religi, sikap beragama yang diladasi oleh anjuran untuk bersabar dan menerima realitas kemiskinan yang secara nyata adalah konsekuensi dari kebijakan eksploitatif kapital. Kemudian para tokoh agama hanya menyarankan untuk sabar, menerima dan menanti keajaiban dari Tuhan. Jika memang demikian maka benarlah agama merupakan candu yang membuai pengikutnya menuju mimpi.

“Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta yang sejenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi.”1

Lenin menjelaskan bahwa agama membuat ketidak berdayaan masyarakat akan melakukan perlawan terhadap ekploitatornya yakni Tuan Tanah dan kaum Kapitalis. Serta membangkitkan akan kesabaran terhadap tidakan ekploitator tersebut dengan harapan imbalan setelah kematian yakni surga.

Maka apakah selamanya agama hanya terlihat dan dipandang sempit oleh masyarakat. Sikap sabar memang dianjurkan oleh agama namun ketika sebuah kesabaran ternyata menjadi suatu senjata ampuh kaum kapitalis dan Tuan Tanah untuk mengeploitasi keringat kita maka hanya ada satu jawaban, diam ditindas tunduk ditindas tunduk atau bangkit melawan.

Jangan Jadikan Agama Sebagai Candu

Ingat ketika Gereja melalui kebijakannya mengepolitasi pengikutnya dan setelah berabad-abad barulah orang-orang progresif berani untuk menentang Gereja. Maka menurut saya agama bisa juga menjadi suatu media pengeploitasian.

Dalam agama pun pengeploitasian kepada sesama memang dilarang. Namun untuk penyama-rataan dalam berbagai bidang serta penghapusan hak-hak kepemilikan seperti yang diserukan sosialis hanyalah angan-angan Utopis, menurut saya memang tidak mungkin untuk dilakukan. Tapi yang paling mungkin untuk dilakukan adalah menjaga keseibangan sosial melaui proses distribusi harta orang kaya kepada orang miskin seperti yang dalam Islam lakukan dengan pemberian Zakat.

Menurut saya anggapan Marx serta Lenin yang mengatakan agama adalah candu dan alkohol masyarakat terjadi karena masyarakat sendiri yang memandang agama secara sempit.










1 Sosialisme dan Agama, Vladimir Lenin (1905) Hal. 83


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda


 
Search Engine Optimization - AddMe

Add to Google Reader or Homepage