Semua Tentang Sejarah Indonesia

Minggu, 13 April 2008

“Underground”: Suatu Komunitas Termajinalkan


Sudah menjadi suatu kenyataan bahwa komunitas underground selalu menjadi suatu momok yang menakutkan untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, padahal masyarakat hanya mengetahui sebagian kecil tentang komunitas tersebut. Ironisnya pengetahuan yang kecil tersebut ternyata tentang hal-hal negatif dan dianggap sesuatu yang melenceng dari norma serta tatanan hidup dalam masyarakat. Mungkin dikarenakan pemahaman yang sedikit inilah yang membuat komunitas-komunitas underground selalu menjadi suatu phobia di tengah-tengah masyarakat.

Memang umumnya komunitas tersebut selalu berkumpul di emperan toko dan selalu bergerombol, namun mereka mempunyai alasan yang cukup kuat yang menyebabkan mereka seperti itu, serta mereka memilih jalur bawah tanah untuk melakukan pergerakan mereka dan tidak ingin menjadi komunitas yang formal.

Tapi tak bisa dipungkiri di balik kebaikan mereka, komunitas underground pun mempunyai side effect yang tidak baik pula. Sebagian komunitas, seperti skinhead, punk street, atau Hardcore mempunyai budaya yang negatif serta sedikit menyimpang dari norma-norma yang telah tertanam di masyarakat sehingga menyebabkan bertambahlah paranoa terhadap meraka di masyarakat.

Untuk memperbaiki citra komunitas yang mempunyai niat baik, maka saya mengangkat tema dualisme komunitas underground. Setidaknya untuk menambah sedikit pengetahuan kita tentang pergerakan bawah tanah yang berkembang di kota-kota besar. Namun tidak semua komunitas akan saya ketengahkan mungkin hanya beberapa komunitas yang saya rasa cukup menonjol dalam memperbaiki atau memperburuk citra komunitas termaginalkan tersebut.

Gambaran Umum Komunitas Underground

Komunitas underground merupakan suatu komunitas yang melakukan pergerakan secara diam-diam atau tidak diketahui banyak orang. Mereka menyebut gerakan tersebut dengan UR (Underground Resistance) dan tidak memilih jalur formal untuk mendirikan suatu perkumpulan.

Alasan mereka tidak mau menjadi suatu komunitas yang formal karena mereka merasa hal tersebut hanya merupakan birokrasi yang berbelit-belit (Birokrasi Kompleks). Terdapat suatu keyakinan dalam diri meraka yaitu jika ingin menyuarakan suara, cukup dengan beraksi dari diri sendiri dan orang-orang sekitar yang dekat. Sehingga komunitas underground lebih condong atau terlihat suatu wadah untuk kumpul atau nongkrong.

Mereka pun memilih untuk nongkrong di emperan toko pada malam hari. Hal tersebut dikarenakan banyak dari mereka merasa berkumpul di siang hari terlihat lebih menarik perhatian, terlebih mereka sadar bahwa mereka merupakan kaum yang dikesampingkan oleh masyarakat dan dianggap sebagai sesuatu yang meresahkan.

Persamaan keyakinan baik berupa hobi, gaya hidup, paham, dsb. dalam diri mereka lah yang membuat persaudaraan mereka lebih erat karena merasa sama rasa, rata dan tanpa perbedaan, terlebih terdorong dari pribadi sendiri yang secara sadar untuk masuk ke dalam komunitas tersebut tanpa paksaan.

Setelah masuk ke dalam komunitas, secara sadar maupun tidak, biasanya individu tersebut akan mengikuti pola life style dari komunitas tersebut. Hal inilah yang mungkin diresahkan masyarakat. Ketika seseorang masuk ke dalam komunitas yang kotor atau negatif.

Tetapi dalam komunitas yang negatif sekalipun tetap ada sisi positif yang timbul, walaupun kecil.

Secuil Sejarah Berdirinya Komunitas Underground di Indonesia

Tak ada catatan pasti sejak kapan komunitas underground mulai berdiri, namun ada yang menyebutkan komunitas otomotif (Motor dan Mobil) yang menjadi perintis dari komunitas undergound. Lalu merembet ke dalam banyak aspek tidak hanya sebatas hobi.

Tahun 90an Skinhead masuk dari Inggris bersamaan dengan Ska dan berkembang pesat hingga tahun 1999. Pada tahun inilah merupakan tahun keemasan bagi para Ska mania dimana di Indonesia terjadi demam Ska, yakni Ska menjadi suatu trend di kalangan remaja baik musik maupun gaya mereka menjadi suatu kiblat yang wajib dicontoh.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh major label (label rekaman yang dilindungi hak cipta-red) yang mengeksploitasi secara besar-besaran musik Ska. Namun dampak dari eksploitasi tersebut harus dibayar mahal oleh komunitas Ska. Ketika memasuki tahun 2000, golongan mereka benar-benar hancur. Banyak pendukung Ska yang berpindah haluan seperti Ska German dan Ska Inggris.

Eksploitasi yang berlebih dari major label yang membuat banyak band Ska suntikan atau lazim dikenal hanya band yang ingin tenar saja tanpa mengetahui apa idiologi ska itu sendiri, hal itu membuat golongan Ska fanatik merasa muak dan mulai pergi meninggalkan Ska dan beralih menjadi Skinhead, Punk, atau Skoinkcore (gabungan antara ska, punk oi, dan core) yang merupakan satu haluan dengan Ska.

Ketika masyarakat sudah jenuh dengan Ska, band-band suntikan tersebut satu persatu mulai hilang. Major label pun menganggap Ska sudah tidak produktif lagi dan mencampakkan Ska. Ska yang sudah ditinggalkan oleh kaum fanatik menjadi komunitas yang vakum.

Berbeda dengan Skinhead, Punk, Skoinkcore dan HC (Hardcore) mereka tetap eksis di indi label (Lebel rekaman yang membiayai sendiri produksi mereka dengan konsekwensi laba dan kerugian ditanggung sendiri) atau D.I.Y(Do It Your self, sebutan lain untuk indi label). Mereka menolak untuk dieksploitasi secara massal oleh major label. Dan memusuhi golongan mereka yang masuk ke jalur major label. Mungkin mereka takut terulang kembali tragedi tahun 2000 dimana komunitas Ska benar-benar hancur.

Tahun 90an memang tahun keemasan berdirinya komunitas Underground musik, namun pada awal tahun 2000 mulai bermunculan komunitas yang berbeda seperti PETA (Pecinta Lingkungan), Vegen (Vegetarian) dan Staraight X.

Underground yang Selalu Termarjinalkan

Sebagai manusia sepertinya sudah menjadi suatu kodratnya, jika lebih mudah menilai semua hal dari sisi buruk dan selalu mengesampingkan sisi positif, serta pola pikir negatif yang selalu curiga akan segala sesuatu yang mereka tidak pernah lakukan. Hal inilah yang terjadi di masyarakat luas. Dimana masyarakat yang melihat sekumpulan orang yang nongkrong selalu berpikiran negatif tanpa melihat lebih jauh apa yang mereka lakukan.

Menurut saya imej negatif yang terbagun dalam masyarakat luas sedikit banyak menyebabkan komunitas underground memilih UR sebagai cara mereka melakukan pergerakan.

Pergerakan dalam lingkup mereka adalah menyebarluaskan pengaruh mereka pada masyarakat, perlu diingat tanpa paksaan. Artinya siapa saja boleh bergabung dengan mereka dengan catatan satu paham dan satu tujuan. Sebagai contoh Skinhead mempunyai tujuan untuk membangun sebuah komunitas tempat berbagi, berkumpul, bercanda selalu, ceria bersama. Kemudian PETA yang menginginkan bumi tetap bersih. Lalu komunitas Punk Street dan Punk Leftis mencita-citakan agar Indonesia tetap damai, tak ada aksi terror, dan menentang sengala bentuk yang berbau Rasis.

Betapa ironis karena sebagian besar komunitas underground seperti Skinhead, Punk ‘n Skin, Punk dsb. dengan lantang menyuarakan satu bumi tanpa perbedaan, justru merekalah yang dianggap berbeda oleh masyarakat, artinya masyarakat merasiskan komunitas yang anti rasis. Hanya karena pakaian mereka yang urakan.

Dualisme Komunitas Underground

Terdapat sesuatu yang menarik dalam komunitas-komunitas underground yakni dualisme yang ada di dalam diri mereka. Di satu sisi mereka merupakan orang-orang yang berdandan urakan, namun hal tersebut merupakan suatu bentuk dari pengekspresian diri terhadap anti kemapanan serta sebagai identitas diri komunitas mereka, seperti Skinhead yang pada awalnya merupakan komunitas Buruh, sehingga sampai sekarang Skinhead identik dengan bir, sepakbola, serta sepatu boot.

Suatu hal yang disayangkan memang, karena mereka menyerap secara mentah kebudayaan Skinhead yang negatif seperti meminum bir yang merupakan suatu hal yang tabu untuk masyarakat Timur tapi merupakan hal yang lumrah untuk masyarakat Eropa. Padahal mereka mempunyai daya kreatifitas yang tinggi, seperti menyuarakan kekecewaan mereka lewat pamflet, buletin, gambar atau lagu yang bertema sosial.

Walaupun lagu, pamflet atau gambar mereka bertema sosial (biasanya tentang pemerintah yang tidak peduli rakyat kecil) mereka dapat meraciknya dengan sesuatu hal yang membuat kekecewaan tersebut menjadi suatu optimisme. Namun sungguh sangat sayang jika kreatifitas tersebut harus ternodai dengan kebudayaan yang diyakini sebagai identitas diri mereka.

Seperti halnya Skinhead. Hardcore, Punk leftis (Punk dengan aliran kiri), serta Punk ‘n Skin, merupakan komunitas yang mempunyai budaya yang sama, yakni alkohol, hidup di jalanan serta anti kemapanan, hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang pokok serta merupakan identitas diri mereka. Mereka sama-sama menyuarakan dan menginginkan satu bumi tanpa perbedaan. Hal ini yang membuat mereka terlihat sebagai golongan kiri atau komunis.

Dari komunitas underground yang terkesan kotor dan selalu hidup tanpa memikirkan norma-norma yang telah tertanam di tengah masyarakat. Tenyata terjadi suatu kenyataan yang unik, yakni mulai timbulnya komunitas-komunitas yang bersih, komunitas ini bermunculan karena merasa muak oleh budaya hidup masyarakat luas yang mereka anggap suatu hal yang salah.

PETA merupakan suatu komunitas yang mencita-citakan lingkungan yang bersih, kemudian Vege timbul karena merasa menjalani pola hidup sebagai Vegetarian merupakan salah satu cara untuk memperpanjang umur mereka, serta merupakan reaksi ekstrim dari kekesalan mereka terhadap fast food yang mereka percayai adalah setan pembantai unggas dalam skala besar. Sehingga terbentuk suatu doktrin tersendiri yakni anti terhadap fast food bahkan Mc Donals dianggap pembantai unggas terbesar. Lalu Staraight X merupakan komunitas bersih, yang terdiri dari orang-orang yang anti rokok, alkohol, drugs, dsb. walaupun dandananan mereka urakan dan terkesan sebagai komunitas yang buruk atau negatif.

Di kota Bogor, terjadi suatu hal yang menarik dimana komunitas-komunitas underground dari berbagai golongan dan faham ini bersatu untuk menghimpun dana yang kemudian dibagi-bagikan kepada para anak jalanan, dan diberi tema “Peduli Anak Jalanan”. Acara ini sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap orang-orang yang juga merasakan hidup di jalanan

Setelah mengetahui kebaikan serta keburukan dari komunitas underground yang mungkin merupakan komunitas-komunitas terbesar, apakah masih merupakan langkah yang bijaksana jika kita tetap memandang mereka sebagai sesuatu yang menakutkan, urakan, barbar, vandal bahkan anarkis?

Namun pemahaman Anarki dalam versi mereka berbeda dengan pemahaman dalam versi masyarakat sehingga mereka melabelkan diri mereka sebagai suatu yang anarki. Tapi arti dari anarki menurut mereka adalah anarki bukan barbar, anarki bukanlah vandal anarki adalah persamaan hak dan tanpa paksaan. Berbeda dengan pemahaman masyarakat luas yang menganggap anarki sebagai kerusuhan dan biang kekerasan.

Walaupun sebagian dari mereka masih memegang budaya yang negatif namun merupakan tugas kita untuk meluruskannya, contoh saja budaya mengkonsumsi alkohol jika kita dan pemerintah bisa menutup pabrik alkohol sehingga menghentikan peredaran alkohol di masyarakat bukankah budaya tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Tapi dapat diambil suatu kesimpulan yakni mereka bukanlah orang yang munafik setidaknya dalam konteks budaya mengkonsumsi alkohol. Karena mereka secara terang-terangan menegaskan bahwa mereka adalah alkoholic. Berbeda dengan kenyataan yang ada dimasyarakat, dimana para peminum mengkonsumsi alkohol lalu berkata pada masyarakat luas mereka adalah orang yang “bersih” bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang munafik?.


Daftar Pustaka

www.io.com/~qsb/words/faq/skin.html - 8k

www.libcom.org/history/articles/punks/ - 12k

en.wikipedia.org/wiki/Skinhead - 47k –

id.wikipedia.org/wiki/Skinhead - 13k

whokillers.blogdrive.com/ - 36k


Pelurusan Kembali Ajaran Marxis


Sejak tahun 1966-1998 bangsa Indonesia mengalami suatu bentuk pembodohan dari pemerintah Soeharto. ORBA manafsirkan pemahaman-pemahaman yang dianggapnya sebagai sesuatu yang membahayakan bagi kelangsungan kekuasaannya akan dicap sebagai suatu paham yang salah.

Pembungkaman yang dilakukan ORBA selama 32 tahun membuat pola pikir masyarakat menjadi sempit. Agaknya Soeharto berserta anteknya telah sukses melakukan suatu betuk brain wash pada jutaan rakyat Indonesia bahkan selama 32 tahun.

Pemahaman yang sempit jelas-jelas terjadi pada marxisme. Paham ini dianggap sebagi biang kekerasan, anti agama, biadab dan berbagai sebutan yang mencirikan paham ini adalah aliran setan.

Pemahaham yang salahpun bahkan timbul dari golongan komunis sendiri yang menafsirkan secara sempit pendapat Lenin bahwa agama adalah candu. Jika bisa menarik pemahaman Lenin secara lebih luas, ajaran agama sebagai candu adalah sindiran bagi kaum agamawan yang menggangap dengan banyak berdoa dengan sendirinya akan mengubah hidup mereka (Kaum Buruh) sehingga lebih menitik beratkan terjadinya hubungan antara Tuhan dengan Manusia dan mengesampingkan hubungan antara manusia dengan manusia padahal dalam ajaran agama Islam pun dijelaskan bahwa hubungan antara Tuhan dengan manusia dan hubungan antara manusia dan manusia haruslah berimbang. Lenin pun menjelaskan, jika sudah tercipta masyarakat yang makmur sentosa maka agama akan tumbuh subur dengan sendirnya.

Mamang benar Marx adalah seorang filsafat yang bersikap materialis serta tidak percaya terhadap tuhan. Tapi Marx menaruh simpati pada rakyat yang menganut agama. Untuk memahami sikap Marx yang sebenarnya kita harus memahami secara mendalam tulisannya yang berjudul “Kritikan Terhadap Falsafah Hegel” Dalam karya ini, kita menjumpai rumusan terkenal mengenai “candu masyarakat” tetapi dalam konteks khusus.

Di Jerman, Marx menulis, “kritikan terhadap agama dari segi umum sudah lengkap.” Dalam arti kata lain, kritikan tersebut sudah diutarakan oleh ahli-ahli falsafah yang mendahului Marx (kaum Hegelian Muda, terutamanya Feuerbach). Marx merumuskan kritikan mereka sebagai berikut:

“Dasar bagi kritikan sekular adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukannya agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum bertemu dengan dirinya sendiri atau telah kehilangan diri sendiri.”

Menurut Marx agama merupakan suatu ideologi yang tercipta dari manusia, tapi tidak menentang manusia menganut suatu agama bahkan ia mengatakan bahwa agama adalah suatu bentuk pencarian manusia akan kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum bertemu dengan dirinya sendiri atau telah kehilangan diri sendiri artinya jika manusia ingin menganut suatu agama maka harus dengan kesadaran diri tanpa adanya unsur keterpaksaan. Kemudian agama merupakan suatu pegangan bagi manusia yang telah kehilangan atau belum menemukan diri.


Cerminan Agama Dalam Masyarakat

Suatu hal yang mengundang keprihatinan ketika petani kecil hanya menjadi petani garapan saja. Namun suatu hal yang lebih memprihatinkan adalah umat beragama yang dan tokoh agama yang hanya berpangku tangan saja.

Ketika diteriakannya kembali agama sebagai candu maka hanya kesan negatiflah yang timbul karena memang hal tersebut menyangkut suatu keyakinan yang telah lama ada.

Tapi pada kenyataannya ditangan umat beragama saat ini, agama tidak mampu diperankan sebagai pembebas sosial bahkan hanya bisa menina-bobokan kesadaran masyarakan akan perbaikan hidup.

Saat ini tengah terjadi suatu passivisme beragama seperti yang ditujukan melaui sinetron religi, sikap beragama yang diladasi oleh anjuran untuk bersabar dan menerima realitas kemiskinan yang secara nyata adalah konsekuensi dari kebijakan eksploitatif kapital. Kemudian para tokoh agama hanya menyarankan untuk sabar, menerima dan menanti keajaiban dari Tuhan. Jika memang demikian maka benarlah agama merupakan candu yang membuai pengikutnya menuju mimpi.

“Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta yang sejenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi.”1

Lenin menjelaskan bahwa agama membuat ketidak berdayaan masyarakat akan melakukan perlawan terhadap ekploitatornya yakni Tuan Tanah dan kaum Kapitalis. Serta membangkitkan akan kesabaran terhadap tidakan ekploitator tersebut dengan harapan imbalan setelah kematian yakni surga.

Maka apakah selamanya agama hanya terlihat dan dipandang sempit oleh masyarakat. Sikap sabar memang dianjurkan oleh agama namun ketika sebuah kesabaran ternyata menjadi suatu senjata ampuh kaum kapitalis dan Tuan Tanah untuk mengeploitasi keringat kita maka hanya ada satu jawaban, diam ditindas tunduk ditindas tunduk atau bangkit melawan.

Jangan Jadikan Agama Sebagai Candu

Ingat ketika Gereja melalui kebijakannya mengepolitasi pengikutnya dan setelah berabad-abad barulah orang-orang progresif berani untuk menentang Gereja. Maka menurut saya agama bisa juga menjadi suatu media pengeploitasian.

Dalam agama pun pengeploitasian kepada sesama memang dilarang. Namun untuk penyama-rataan dalam berbagai bidang serta penghapusan hak-hak kepemilikan seperti yang diserukan sosialis hanyalah angan-angan Utopis, menurut saya memang tidak mungkin untuk dilakukan. Tapi yang paling mungkin untuk dilakukan adalah menjaga keseibangan sosial melaui proses distribusi harta orang kaya kepada orang miskin seperti yang dalam Islam lakukan dengan pemberian Zakat.

Menurut saya anggapan Marx serta Lenin yang mengatakan agama adalah candu dan alkohol masyarakat terjadi karena masyarakat sendiri yang memandang agama secara sempit.










1 Sosialisme dan Agama, Vladimir Lenin (1905) Hal. 83


Sabtu, 12 April 2008

Pergerakan Pemuda Indonesia di Belanda


Para Pendahulu kita, orang tua kita, Perintis, Pejuang Kemerdekaan serta para pahlawan sudah berkorban untuk kemerdekaan Indonesia, bukan untuk kemerdekaan daerah-daerah dimana mereka berasal, baik itu perjuangan secara fisik, politik maupun kebudayaan. Saya masih teringat salah satu pesan Parlindoengan Loebis1. Pesan itu berbunyi:

“Pertahankan kewibawaan Sang Saka Merah Putih, jangan sia-siakan darah dan air mata kami”.2

Saya mengangkat Perhimpunan Indonesia pada makalah ini karena seperti yang di katakan Poeze, PI merupakan pionir dalam perumusan konsep Indonesia, serta merupakan organisasi yang mengusulkan agar partai-partai politik bersatu dengan program yang dapat mempersatukan partai-partai nasionalis. Program tersebut berisi pasal-pasal politik, sosial dan ekonomi3.

Perjuangan PI di Negeri Belanda mempunyai peranan penting bagi kemerdekaan Indonesia namun belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia4 mungkin karena pergerakan PI lebih banyak dilakukan di luar Negeri.

Karena itu saya menjadi tergugah untuk membahas lebih lanjut mengenai PI, setidaknya melalui tulisan saya ini saya berharap dapat memberikan sumbangsih kecil untuk menumbuhkan kembali jiwa-jiwa nasionalisme pemuda yang saat ini sudak mulai terkikis. Setidaknya generasi muda dapat mengetahui bahwa perjuangan kemedekaan kita dilakukan melalui dua Jurusan yakni dalam dan luar negeri.

PERHIMPUNAN INDONESIA (PI)

Perhimpunan Indonesia (PI) didirikan pertama kali pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Negeri Belanda, diantaranya adalah Sultan Kasayangan, R.N. Nyoto Suroto, mula-mula organisasi ini bernama Indische Vereeniging. Tujuan awalnya adalah untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari Indonesia, maksudnya orang-orang pribumi dan non pribumi bukan Eropa, di Negeri Belanda dan hubungan dengan Indonesia. Mulanya organisasi ini hanya bersifat organisasi sosial. Akan tetapi semenjak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan Imperialisme di kalangan pimpinan-pimpinan Indische Vereeniging makin menonjol. Terlebih sejak adanya seruan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika detelah PD I berakhir, kesadaran mereka tentang hak dari bengsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri dan merdeka dari penjajahan Belanda semakin kuat.

Perkembangan baru dalam tubuh organisasi itu membawa perubahan nama yakni diganti menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1922 dan pada tahun 1925 disamping nama dalam bahasa Belanda dipakai juga nama Perhimpunan Indonesia dan kelamaan hanya nama PI saja yang dipakai. Dengan demikian PI semakin tegas bergerak memasuki bidang politik. Perubahan ini didorong oleh bangkitnya seluruh bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika untuk menuntut kemerdekaan5.

Semenjak tahun 1923, PI aktif berjuang bahkan memelopori dari jauh pejuangan kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia dengan berjiwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang murni dan kompak. Berdasarkan perubahan ini PI keluar dari Indonesisch Verbond van Studeeren6 karena dianggap tidak perlu lagi. Langkah radikal selanjutnya adalah merubah nama majalah PI dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka tahun 1924. Meningkatnya aktivitas PI kearah politik ini terutama sejak datangnya dua mahasiswa Indonesia ke Belanda yakni A. Subardjo tahun 1919 dan Moh. Hatta tahun 1921 yang keduanya kemudian pernah menjabat sebagai ketua PI.

Sejak awal berdiri telah diformulasikan secara jelas program-program PI, meliputi perjuangan untuk tanah air dan juga ditunjang dengan program dalam memperkenalkan Indonesia ke dunia Internasional. Pada waktu PI diketuai oleh Sukiman, telah disusun program-program secara tegas dan lebih intensif. Pasal-pasal dalam PI jelas mencerminkan kesadaran PI, bahwa Indonesia tidak berdiri sendiri, yakni terlihat pada pasal 1, 2, 3. adapun pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut:

Pasal 1: Mempropagandakan asas-asas perhimpunan lebih intensif, terutama di Indonesia.

Pasal 2: Menarik perhatian internasional pada masalah Indonesia.

Pasal 3: Perhatian para anggota harus dibangkitkan buat soal-soal internasional dengan mengadakan ceramah-ceramah, bepergian ke negara-negara lain untuk studi dan lain sebagainya.

Untuk melaksanakan program-program kerja PI Pasal 1, telah ditempuh oleh Ali Sastroamidjojo dengan mengadakan penyelundupan majalah Indonesia Merdeka ke Indonesia. Sedangkan untuk pasal 2 dan 3 baru dapat dilaksanakan ketika PI di ketuai oleh Moh. Hatta.

Sementara itu kegiatan PI meningkat menjadi nasional-demokratis, non-koperasi dan meninggalkan sikap kerjasama dengan kaum penjajah, bahkan PI sering mengikuti kegiatan-kegiatan tingkat Internasional dan anti kolonial. Di bidang Internasional ini PI bertemu dan bekerjasama dengan tokoh-tokoh pemuda dan mahasiswa dari ASIA, Afrika dan Eropa. Bahkan PI berhubungan baik dengan perhimpunan pemuda-pemuda Belanda yang mendukung Indonesia untuk merdeka7 seperti:

  1. SDSC: Sociaal-Democratische Studenten Club (Perhimpunan Mahasiswa Sosial Demakrat)

  2. SVA: Studenten Vredesactie (Perhimpunan Mahasiswa untuk Perdamaian)

  3. JVA: Jongeren Vredesactie (Perhimpunan Pemuda untuk Perdamaian)

  4. Antifa: Antifacistische Actie (Perhimpunan Mahasiswa anti Fasis)

Belanda 1932-1940

Pada tahun 1932 keadaan di negeri Belanda susah sekali. Pengengguran bertambah banyak dan kehidupan bertambah sukar. Hal ini dirasakan oleh semua penduduk Belanda tak terkecuali mahasiswa Indonesia, kaum Buruh di cabut hak-hak sosialnya hal ini menyebabkan ketidak senangan dan selalu menimbulkan bentrok. Bahkan di Rotterdam pernah terjadi bentrokan antara kaum Buruh dengan Polisi yang membawa beberapa korban, karena besarnya bentrokan ini kemudian Pemerintah menyiapkan tentara di atap-atap rumah dengan senapan mesin untuk meredakan bentrokan tersebut. Hal ini mengejutkan dunia sehingga mata uang Gulden jatuh di bursa di beberapa negara yang menyebabkan kehidupan bertambah sulit.

Pemerintah Belanda yang bertambah konservatif dan reaksioner menentang kaum buruh dengan keras. Terlebih lagi setelah Colijn dan partai Anti-Revolusionernya memerintah. Banyak larangan diberlakukan kepada kaum buruh dan partai kiri oleh pemerintah Colijn. Partai-partai dan perhimpunan banyak yang masuk daftar hitam, PI pun dimasukkan ke dalam daftar ini. Termasuk juga partai Komunis Nederland seperti Internationale Roode Hulp, Malthusiaanche Bond, Antifa dan OSP sehingga tercipta opini publik bahwa PI merupakan organisasi berhaluan komunis. Hal ini membawa kesulitan bagi PI dalam mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Saat itu banyak anti-propaganda terhadap PI. Antara lain PI dikatakan sebagai Al Capone bende8. Di beberapa koran konservatif sering dianjurkan supaya anggota PI ditangkap, kepada mereka yang berpolitik harus diadakan Undang-undang seperti kepada bangsa Indonesia di Hindia. Namun karena kedekatan PI dengan kaum buruh serta perasaan senasib yakni dimasukan dalam daftar hitam maka PI dilindungi oleh kaum buruh sehingga pemerintah Belanda tidak pernah membubarkan PI atau menangkap ketua PI.

Karena itu walaupun mahasiswa Indonesia banyak yang menempuh studi di Belanda namun tidak semua mempunyai keberanian untuk masuk dalam organisasi ini. Hanya orang-orang dengan karaktervast9 dan mau berkerja serta berkorban untuk kemerdekaan saja yang dapat menjadi anggota. Biasanya perekrutan anggota melalui tes-tes untuk mengetahui kemantapannya. Hal tesebut dilakukan karena ketika itu PI mulai menjadi setengah ilegal. PI mengetahui hal tersebut melalui berita dari Indonesia bahwa setiap anggota PI yang pulang setelah menyelesaikan studinya terus-menerus diawasi oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selama dua sampai tiga tahun. Bahkan sering juga ditangkap dengan alasan dibuat-buat, seperti yang terjadi pada Iwa kusuma Soemantri, Hatta, Syahrir, dan lain-lain.

Bahkan karena sebagaian besar mahasiswa yang belajar ke Belanda adalah anak-anak pegawai negeri maka pemerintah kolonial membuat ultimatum pada orang tua mereka yakni:

  1. Melarang anaknya menjadi Anggota Perhimpunan Indonesia.

  2. Kalau anaknya tidak mau maka kiriman uang distop atau bapaknya dikeluarkan dari pekerjannya.10

Sebenarnya PI dimasukkan ke dalam daftar hitam adalah karena keputusan Volksraad11 sehingga hanya Volksraad sendiri yang dapat mencabut PI dari daftar hitam. Volkstraad menilai PI sebagai organisasi komunis karena suatu artikel dari Indonesia Merdeka yang terdapat kata-kata “massa strijd”12 dan “democratische regeering van arbeiders en boeren”13.

Memasuki tahun 1936, PI mempergiat aktifitasnya. Ke dalam, grup-grupnya diharuskan untuk mempelajari buku-buku politik dengan teratur. Ke luar, mendekati orang-orang yang dianggap dapat memberi pengaruh di kemudian hari dan dapat menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu kemudian PI membentuk perkumpulan-perkumpulan lain, seperti:

  1. Rukun Pelajar Indonesia yang bergerak di bidang Sosial dan Ekonomi.

  2. SVIK (Studenten Vereeniging Ter Boverdering van Indonesische Kunst) yaitu pergerakan mahasiswa untuk memperkembangkan kesenian Indonesia.

Pendirian perkumpulan-perkumpulan ini dilakukan PI untuk menarik mahasiswa Indonesia untuk bergabung dan berjuang untuk Indonesia jadi mahasiswa dapat memilih untuk masuk PI yang berhaluan politik, Rukun Pelajar Indonesia yang berhaluan sosial ekonomi atau SVIK yang berhaluan seni budaya Indonesia. Disamping itu PI ingin mengenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain. Hal tersebut untuk membuktikan bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang terbelakang melaikan suatu bangsa yang mempunyai kebudayaan tinggi.

Rupanya cara-cara yang ditempuh PI berhasil dan dapat mempopulerkan PI. Karena ke populeran ini SDAP (Sociaal-Democratische Arbeiders Partij) di negeri Belanda mulai mendekati PI. SDAP sendiri mempunyai cabang di Indonesia yakni ISDP (Indische Social-Democratische Partij) yang mempunyai dua orang anggota Volkstraad. Kemudian SDAP melalui korannya, Het Volks membahas bahwa PI tidak mempunyai ideologi tertentu dan hanya semata-mata Perhimpunan Kaum Nasionalis yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia dan ingin melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Berkat itu nama PI dapat diperbaiki.


Perang Dunia 2 dan Kemerdekaan RI

Sebenarnya ketika pecah Perang Dunia ke-2 dan sewaktu Belanda ditaklukkan Jerman pada tahun 1941 PI aktif melakukan gerakan bawah tanah sehingga pasca perang Eropa14 PI mendapat kartu distribusi makanan15. Sebagai penghargaan pada PI pula pemerintah Belanda memberikan dua kursi Tweede Kamer, satu kursi di Eerste Kamer dan ada tawaran untuk menjadi Minister van Kolonien kepada salah satu anggota PI namun semua itu ditolak karena PI tidak mau bekerjasama dengan Belanda.

Sebagai tambahan setelah Indonesia merdeka para anggota PI tidak dapat langsung pulang ke Indonesia karen dipersulit oleh pemerintah Belanda. Saat itu dimanfaatkan PI untuk mengkampanyekan mengenai Kemerdekaan RI termasuk pada kongres World Federation of Democratic Youth di Chekoslowakia yang dihadiri oleh orang-orang penting AS, Perancis dan Inggris. Akhirnya pada bulan Oktober 1946 pemerintah Belanda memberikan kesempatan pada mahasiswa Indonesia untuk pulang dan pada 7 Desember 1946 berangkatlah kapal Weltevreden yang mengangkut orang-orang Indonesia. PI sendiri berhasil menyelundupkan Dr. Setia Budi (Douwes Dekker). Pada saat orang Belanda dilarang pergi ke Indonesia.


















Berikut adalah masa jabatan serta nama yang pernah menjabat sebagai ketua PI:

1908-1914: Sutan Casyangan (masih menggunakan nama Indische Vereeniging)

1914-1917: Noto Soeroto

1917-1919: Indische Vereeniging bergabung kedalam Indonesisch Verbond van Studeeren, dan diketua oleh dua orang yaki R.M. Suwardi Suryaningrat (Ketua) dan dr. Gunawan Mangunkusumo (wakil ketua).

1919-1921: Ahmad Subardjo

1921-1922: Berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging, diketuai oleh dr. Soetomo.

1922-1923: Hermen Kartowisastro.

1923-1924: Iwa Kusuma Sumantri.

1924-1925: Nazir Datuk Pamuntjak.

1925-1926: Berganti menjadi Perhimpunan Indonesia dan diketuai oleh Dr. Sukiman Wirjosandjojo.

1926-1930: Moh. Hatta.

1930-1932: Abdoel Sjoekoer.

Sedangkan dari tahun 1932-1940 hampir setiap Ketua PI diganti setiap tahun kecuali pada tahun 1937-1940.

  1. Oetojo Ramelan: Menjadi meester in de Rechten16 di Leiden. Penah menjadi Menteri Muda Luar Negeri RI, Konsul Jendral pertama di Singapura dan Duta Besar Australia dan Swedia.

  2. Soenarko: Manjadi meester in de Rachten di Leiden. Tahun 1945-1947 menjadi residen di Malang.

  3. Setiadjit: Pernah menjadi Menteri Muda Perhubungan dan Wakil Perdana Menteri RI.

  4. Muwaladi: Menjadi meester in de Rachten di Leiden, kemudian menjadi advocaat DI Jakarta.

  5. Parlindoengan Loebis: Menjadi arts17 di Leiden. Karena banyak anti propaganda terhadap PI yang mengatakan bahwa pemuda Indonesia di negeri Belanda tidak bisa belajar dan karenanya mereka pura-pura berpolitik maka Ilderem dan Loebis paling lama duduk sebagai ketua, dari tahun 1937-1940.

  6. Moh. Tamzil: Pernah menjadi Menteri Muda Luar Negeri, Sekertaris Negara dan Duta Besar RI di Swedia dan Paris.

  7. Maroeto Daroesman: Pernah menjadi Menteri Muda Luar Negeri.























Daftar Pustaka


Aulia, W., Emil. Berjuta-juta dari Deli, Satoe Hikajat Koeli Contract. Jakarta: PT. Gramedia, 2006.

Loebis, Parlindoengan. Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi. Depok: Komunitas Bambu, 2006.

Poesponegoro, Djoened, Marwati., Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Rahardjo, M., Dawam. Membuka Lipatan Sejarah: Menguak Fakta Gerakan PKI. Jakarta: Cidesindo, 1999.

Sudiyo, Drs.. Perhimpunan Indonesia Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta & Bina Adiaksa, 2004.








1 Parlindoengan Loebis adalah salah satu tokoh pergerakan di negeri Belanda. Pada masa Kolonial ia bersekolah di sana dan pernah menjadi ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda. Seperti dikatakan Harry A. Poeze dalam In het land van de overheerse I: Indonesiers in Nederland 1600—1950 (1986)— adalah tokoh yang dalam tahun 1936—1940 mengetuai Perhimpunan Indonesia (PI), organisasi mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda yang berperan sebagai organisasi pergerakan yang menjadi pionir perumus konsep “Indonesia” dan mengawali berkembangnya konsep ke-Indonesia-an untuk mengganti konsep “Hindia Belanda”.

2 Parlindoengan Loebis, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi Otobiografi Parlindoengan Loebis (Depok, Komunitas Bambu 2006) hlm. v


3 Ibid., hlm 67

4 Drs. Sudiro, Perhimpunan Indonesia Edisi Revisi (Jakarta, Rineka Cipta dan Bina Adiaksa 2004) hlm, v

5 Di India, Gandhi menuntut kemerdekaan dari Inggris dengan menganjurkan rakyat India memakai tenunan India supaya mendapat kepercayaan pada diri sendiri dan jika diberi kesempatan mampu membuat barang-barang keperluan sendiri. Seruan Gandhi ini mewabah hingga Indonesia yang juga turut menganjurkan pertenunan Lurik. Namun politik Lurik ini tidak bertahan lama. Jepang dengan dumping system-nya menghancurkan industri Lurik Indonesia dengan membanjiri pasar dengan kain-kain Lurik yang lebih murah. Terlebih pada saat itu kehidupan sulit sekali. Akibatnya gerakan Lurik ini mati dengan sendirinya.

6 Suatu perkumpulan yang bertujuan menggabungkan organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia, Belanda, Indo Belanda dan peranakan Cina yang berorientasi ke Indonesia dalam suatu kerjasama.

7 Tahun 1902 terjadi hal yang menghebohkan Eropa dimana sebuah brosur yakni Millioenen uit Deli karya Van den Brand, memuat kebobobrokan pemerintah Kolonial Belanda di Hindia. Setelah itu terjadi reaksi keras orang Eropa termasuk Belanda yang menginginkan agar Indonesia merdeka bahkan di Belanda sendiri terjadi perbincangan yang tak ada habisnya di Majelis Rendah (Tweede Kamer) mengenai nasib Indonesia. Kehebohan ini hanya bisa ditandingi oleh karya Multatuli, Max Havelaar.

8 Al Capone adalah penjahat besar di Amerika Serikat pada waktu itu.

9 Karaktervast (bahasa belanda) artinya karakter mantap.

10 Pada waktu itu kiriman uang dari orang tua mahasiswa adalah melalui Goedhart (bekas Gubernur Aceh). Jadi Goedhart yang menerima kiriman uang dari orang tua kemudian menyalurkannya. Sehigga mudah saja pemerintah kolonial menstop kiriman uang atau memecat orang tua mahasiswa yang pegawai negeri.

11 Volksraad adalah badan yang dibentuk di Hindia Belanda untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Secara harfiah Volksraad berarti Volks=rakyat dan Raad=anjuran namun dalam kenyataannya hanya unsur Raadnya saja yang tampak.

12 Perjuangan Massa atau Rakyat


13 Pemerintahan Pekerja dan Petani yang Demokratis.

14 Perang di Eropa lebih cepat berakhir setelah Hitler bunuh diri bulan Mei 1945 sedangkan perang di Pacifik masih berkobar dan berakhir pada bulan Agustus 1945.

15 Pasca perang Belanda mengalami kehancuran dan makanan sulit di dapat. Ketika pecah perang sebenarnya belanda ingin bersikap netral seperti pada perang dunia I namun ternyata Jerman menyerang dan menaklukan Belanda dengan mudah. Ketika tahun 1939 Belanda sebenarnya mempunyai cukup cadangan makanan hingga 4 tahun namun karena ditaklukan Jerman maka cadangan makanan tersebut diangkut ke Jerman terlebih ketika Jerman mulai terdesak oleh sekutu dan Soviet.

16 Sarjana Hukum


17 Dokter

Kehadiran Nazi di Indonesia

Pagi-pagi buta tanggal 1 September 1939, Komando Tertinggi Jerman Mengeluarkan perintah harian yang berbunyi:

“Saat penuh cobaan telah tiba. Tatkala semua upaya lain telah habis, maka senjatalah yang harus memutuskan. Kami memasuki pertempuran ini dengan menyadari bahwa keadilanlah yang menuntun kami. Kami percaya akan Fuhrer, pemimpn kami. Maju bersama Tuhan, demi Jerman.”

Tidak ada suatu pernyataan resmi yang dikeluarkan, baik yang ditujukan untuk rakyat Jerman maupun dunia. Pengumuman pecahnya perang tersdasyat dalam sejarah umat manusia ini adalah dari dentuman-dentuman meriam kapal perang Jerman Schleswig Holstein.1 1,8 juta orang prajurit Jerman menyerbu Polandia dan mengawali pecahnya perang dunia II yang menghilangkan ratusan juta nyawa manusia, menariknya dari perang inilah perubahan peta perpolitikan militer secara drastis, singkatnya PD II membawa banyak perubahan dalam perangkat serta taktik militer.

Adalah Jerman yang melontarkan taktik perang serta persenjataan modern, seperti taktik Blizkrieg2 yang mampu menggulung raksasa Perancis dalam waktu singkat serta London yang dibuat hancur dengan roket V-1 dan V-23 dan Luhtwaffe (Angkatan Udara Jerman) menjadi pengguna pertama pesawat bermesin jet.

Karena itu walaupun Jerman keluar sebagai blok yang kalah dalam pertempuran ini namun Jermanlah yang justru merubah pola pikir perang kolosal menjadi modern dan untuk itu Jerman mutlak memerlukan sumber daya alam dan manusia yang handal.

Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Jerman memiliki darah dan naluri bertempur, setidaknya dapat dilihat dari kebrutalan nenek moyang mereka yakni bangsa Celt yang hidup di abad ke-2 sebelum masehi. Bangsa Celt memiliki catatan-catatan hebat diantaranya ketika berada di bawah tangan besi Charlemange pada tahun 800, yakni mendirikan Holy Roman Empire yang wilayahnya mencakup hampir seluruh bagian barat kontinen Eropa.

Pada abad ke-18, holy Roman Empire kembali bangkit setelah kekuatan kaisar Frederick dan Perdana Mentri Otto von Bismarck4 berhasil menundukkan Perancis, Austria dan Prussia. Imperium rancangan Bismarck inilah yang kemudia disebut-sebut sebagai Reich pertama, dengan kata lain basis Reich ketiga yang ingin dibangun Hitler.

Pasca PD I Jerman dikenai kewajiban membayar ganti rugi kepada Perancis dan Inggris dalam jumlah Besar sehingga menguras habis keuangannya dan menimbulkan kekacauan ekonomi yang berujung pada inflasi serta stagnasi. Namun kesemuanya ini dimanfaatkan oleh Adolf Hitler dan partainya Nazi untuk menarik simpati rakyat dengan janji dan slogannya untuk membangkitkan kembali kejayaan Jerman. Dictat von Versailles (Pendiktean Versailles)5 Sekutu untuk meniadakan ancaman Jerman dikemudian hari justru menjadi blunder sekutu dan dijadikan amunisi oleh Hitler untuk menguasai Jerman.

Adolf Hitler sejak mengambil alih kekuasaan di Jerman pada tanggal 1933 mempunyai ambisi membangkitkan kembali kejayaan militer Jerman yang dikebiri dan di pasung oleh perjanjian Versailles, perjanjian tahun 1919 yang dipaksakan sepihak oleh sekutu setelah Perang Dunia I berakhir yang benar-benar melucuti Jerman dari kekuatan militernya.

Setelah Hitler berkuasa, ia mengemukakan yang selama ini ada dalam bnenaknya, termasuk langkah untuk membangun kembali Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) yang besar dan kuat. Pihak militer tentu saja senang dengan rencana pembangunan kembali Angkatan Bersenjata Jerman yang telah dipangkas habis-habisan oleh perjanjian Versailles, maka bertemulah kepentingan dua pihak, Hitler dan Militer. Dengan janji pembangunan besar-besaran kekuatan militer Jerman. Meski dengan resiko melanggar Versailles pemimpin militer pun mendukung Nazi meskipun mereka sendiri resminya tidak berpolitik. Bahkan banyak diantara mereka yang sebetulnya tidak menyukai ideologi maupun sepakterjang Nazi6.

Demi memenuhi ambisinya membangun Reich ke tiga yang menguasai Eropa serta mengembalikan kejayaan Jerman, Hitler kemudian memerintahkan industri persenjataan Jerman harus ditingkatkan kemampuannya untuk menghasilkan senapan, meriam, tank serta berbagai senjata dan kendaraan lainnya.

Walaupun saat itu Jerman sedang dalam keadaan kacau namun Jerman masih memiliki beberapa industri besar maupun kecil yang semua akhirnya diubah fungsi, seperti Volkswagen yang semula memproduksi mobil rakyat beralih fungsi menjadi penyedia alat-alat militer, kemudian Krupp dan IG Farben diminta meningkatkan produksi baja dan barang kimia. Semua industri bekerja dengan kapasitas penuh. Dari pabrik-pabrik inilah keluar hasil produksi berupa tank, truk, meriam, senapan, karet sintetis dan lain-lain. Mereka dengan cepat mampu menyediakan persenjataan tersebut7.

Tahun 1939-1940 merupakan tahun kejayan bagi Jerman Nazi. Polandia dapat digulung Hitler kurang dari 3 minggu tepatnya 17 hari. Kemudian Perancis dapat ditaklukkan hanya melalui pertepuran selama lima hari. Lalu berturut-turut negara-negara Eropa berlutut di bawah Jerman, begitu pula dengan Belanda yang dikalahkan tahun 1940.

Kancah pertempuran Eropa rupanya berimbas juga pada keadaan di Hindia-Belanda. Bersamaan dengan ekspansi Jerman ke Belanda bulan Mei 1940, Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia menahan sebanyak 2.436 orang Jerman. Banyak diantara mereka merupakan pegawai kolonial, ahli budaya, insinyur, dokter, ahli minyak bumi dan juga diplomat bahkan seniman terkenal Walter Spies yang merupakan pendiri sekolah lukis di Bali juga ditangkap. Kemudian orang-orang Jerman ini dimasukkan dalam kamp pengasingan di Sumatra Utara8. Proses penangkapan ini berlangsung hingga penghujung tahun 1941.

14 Desember 1941 pasukan Jepang mendarat di Borneo (Kalimantan). Pemerintah kolonial yang saat itu sudah dalam keadaan genting, melihat bahayanya jika para tahanan ini jatuh ke tangan Jepang karena Jepang telah bersekutu dengan Jerman. Maka Pemerintah Kolonial memutuskan untuk membawa para tahanan Jerman tersebut ke India yang merupakan koloni Inggris dengan maksud menyerahkan tawanan tersebut ke tangan Inggris.

Pada tanggal 18 Januari 1942 berangkatlah tiga kapal berbobot 3000 ton yang membawa tawanan. Kapal terakhir yang berangkat adalah Kapal van Imhoff dari Sibolga, Sumatra. Celaknya kapal tersebut tidak menggunakan tanda palang merah. Sehingga keesokan harinya tanggal 19 Januari 1942 van Imhoff mendapat serangan dari 2 pesawat pemburu milik Jepang. Dalam keadan panik, pasukan Belanda yang ditugaskan menjaga tawanan melarikan diri dengan perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Sebelumnya pasukan belanda tersebut telah merusak perahu sekoci, pompa air serta alat komunikasi. Beruntung masih ada satu sekoci yang belum dirusak atau tidak sempat dirusak, maka tawanan Jerman tersebut menaiki perahu kecil itu. Dari 477 tawanan 411 meninggal dan yang berhasil selamat sebanyak 64 orang dapat selamat dan mencapai Nias sedangkan 2 orang lainnya meninggal sesaat ketika mencapai Nias.

Keesokan harinya mereka ditangkap oleh tentara Belanda dan di bawa ke penjara Polisi di Gunung Sitoli yang dijaga oleh tentara Belanda dan Polisi Indonesia. Polsi Indonesia tersebut terkejut setelah mereka mengetahui bahwa mereka menjaga orang Jerman, kemudian Polisi Indonesia dan para tawanan Jerman tersebut bersekongkol dan melakukan pemberontakan, hingga akhirnya berbalik memenjarakan tentara Belanda tersebut. Kemudian pada 17 April 1942 Jepang datang ke Nias dan menyelamatkan para orang Jerman itu dan mengembalikan mereka pada pekerjaan mereka dahulu. Sebelumnya orang-orang Jerman tersebut memproklamasikan kemerdekaan Republik Nias.

Tahun 1942 adalah tahun yang menentukan baik di medan perang Eropa ataupun Pasifik. Walaupun Jepang pada 8 Maret 1942 dapat mengalahkan Belanda di Indonesia namun pada setelah pertempuran di Midway (Juni 1942) dan kemudian di kepulauan Solomon (November 1942) yang mengakibatkan pengosongan Pulau Guadalcanal beberapa waktu kemudian, pamor Jepang di kancah Pasifik mulai merosot. Begitu pula dengan Jerman. Oprasi Barbarossa9 yang dilancarkan Hitler berbuah kehancuran bahkan dalam bulan Novenber 1942 pasukan Rusia yang dipimpin oleh Marsekal Zukov mengurung Jerman di Stalingrad dan pada bulan November itu pula Rommel10 dikalahkan oleh Montgomery di front Afrika. Puncak kemalangan Jerman terjadi pada bulan Agustus 1943 dimana satu-satunya kilang minyak Jerman di Ploesti, Rumania di bom habis-habisan oleh tentara udara Sekutu. Walaupun Ploesti tetap berdiri namun hampir 50% kilang tersebut mengalami kerusakan.

Namun rupanya Jerman telah mencium Sekutu akan menyerang Ploesti maka sebelumnya pada bulan Mei 1943 Kriegsmarine mengadakan persetujuan dengan Jepang. Inti persetujuan tersebut adalah untuk mengimport senjata perang yang ditukar dengan bahan baku seperti karet, minyak, timah, molybdan, wolfram dll. Kemudian di Jakarta Mayor Angkatan Laut Jerman, Dr. Herman Kandeler (yang juga merupakan wakil anggota diplomatik) meminta pada Jepang villa dan Perkebunan Helfferichs di Cikopo, Bogor diberikan kembali kepada Jerman. Maksudnya villa dan perkebunan ini untuk dijadikan tempat beristirahat awak U-boat yang telah mengalami pelayaran di bawah laut selama berbulan-bulan. Kemudian perkebunan ini diserahkan kepada Alber Vehring. Vehringlah yang menyediakan segala makanan selama awak U-boat tersebut berada di perkebunan. Dalam catatan hariannya Peter Marl (merupakan salah satu awak U-boat) mengatakan:

“Mereka bisa menikmati tempat itu, surga tropis dan bisa melupakan sejenak untuk waktu yang singkat kejamnya perang dan bahayanya pelayaran laut”.

Tercatat selama periode 1943-1944, sebanyak 42 kapal selam telah dikirim ke Indonesia. Bahkan U-180 telah dua kal dikirim. Namun hanya sedikit sekali yang dapat kembali dengan selamat ke Perancis mengingat tahun-tahun tersebut laut telah diasai oleh Sekutu.




Daftar Pustaka


Artikel dan buku


Adam, A,W., Pelurusan Sejarah Indonesia (Yogyakarta: Tride, 2004)


Anderson, Bendedict, Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia (Yogyakarta: Mata Bangsa, Tanpa tahun)


Budiardjo, Miriam, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa (Jakarta: Sinar Harapan, 1991)


Bennett, Geoffrey, The Pepper Trader: True Tales of the German East Asia Squadron and the Man who Cast the in Stone (Jakarta: PT. Equinox Publishing, 2006)


-----. Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 2003)


Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001)


Krug, Hans, Joachim, et al. Reluctant Allies: German-Japanese Naval Relations in World War II, (Annapolis: Naval Institute Press, 2001)


Hitler, Adolf, Mein Kampf, Jilid II


Hoogerwerf, A., Politikologi (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1985)


Ojong, P.K., Perang Eropa Jilid I (Jakarta: Kompas, 2003)


Ojong, P.K., Perang Eropa, jilid III (Jakarta: Kompas, 2005)


Rukardi, Gerakan Sawito: Perlawanan Mesianistik Terhadap Rezim Orde Baru 1972-1976 (skripsi Fakultas Sastra Undip, tidak diterbitkan, 2002)


Solihat, Kodar, Teknologi Senjata Jerman Banyak ditiru. (Bandung: Pikiran Rakyat, 2005)

Zahorka Herwig: Arca Domas-ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesia (tidak diterbitkan)



1 P.K. Ojong, Perang Eropa Jilid I (Jakarta,Kompas 2003) hlm. ix

2 Blitzkrieg berasal dari bahasa Jerman yang artinya Blitz (kilat) dan Krieg (Perang). Sedangkan Perancis saat itu masih terbuai dengan iklim Perang Dunia I sehingga masih menggunakan taktik Sitzkrieg, sebuat metode menunggu kedatangan musuh terlebih dahulu. Blitzkrieg merupakan hasil pemikiran Jendral Erich von Mainstein.

3 Roket V-2 merupakan cikal bakal peluru kendali modern masa kini. Rancangan dasar peluru kendali berdasar V-2, banyak dibuat pada zaman Perang Dingin antara Blok Barat (AS dan sekutu) dan Blok Timur (Uni Soviet dan aliansinya) tahun 1960-an-tahun 1980-an

Produksi roket V-2 mulai dilakukan tahun 1942 di Peenemunde dan mulai dicoba September 1944, saat NAZI Jerman mengerjakan dua projek senjata baru, di samping bom terbang V-1. Sosoknya yang membawa satu ton hulu ledak, memiliki panjang 14 meter, berbahan bakar cair, memiliki kecepatan supersonik, dan dapat terbang pada ketinggian sekira 50 mil, membuatnya menjadi senjata mengerikan yang sulit ditangkal. Untuk diskusi lebih lanjut lihat artikel Pikiran Rakyat Kamis 12 Mei 2005: Teknologi Senjata Jerman Banyak ditiru. hlm. 2; Kodar Solihat, “Perang Eropa, jilid 3”. (Jakarta: Kopas, 2005), hlm. 105; P.K. Ojong.



4 Nama Otto von Bismarck diabadikan dalam kapal tempur Jerman semasa PD II (Bismarck) yang berbobot 42.000 ton, terdiri atas delapan meriam 15 inci (berdiameter 38 cm) disamping itu dilengkapi pula dengan selusin meriam 15 cm dan merupakan salah satu kartu As Jerman pada perang laut melawan Inggris. Kedigdayan Bismark hanya bisa ditandingi oleh kapal tempur Repulse Inggris, akan tetapi meriam 38 cm hanya 6 buah, lapisan bajanya lebih tipis dan sudah berusia lanjut, 25 tahun.

5 Perjanjian Versailles (1919) adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November 1918 di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseturuan sesungguhnya. Salah satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara tertentu yang tergabung dalam Sekutu.

Di Jerman, perjanjian ini menimbulkan keterkejutan dan rasa malu yang berperan terhadap runtuhnya Republik Weimar pada 1933, terutama karena banyak orang Jerman tidak percaya bahwa mereka harus menerima tanggung jawab penuh sebagai pemicu perang. "Empat Besar" (Big Four) yang melakukan negosiasi perjanjian ini adalah Perdana Menteri David Lloyd George dari Britania Raya, Perdana Menteri Georges Clemenceau dari Perancis, Vittorio Orlando dari Italia, dan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika Serikat. Jerman tidak diundang ke Perancis untuk mendiskusikan perjanjian. Di Versailles saat itu, sulit untuk mencapai kesepakatan bersama karena tujuan mereka saling konflik satu sama lain. Hasil perundingan disebut-sebut sebagai suatu kompromi yang tidak disukai oleh pihak manapun. Untuk diskusi lebih lanjut lihat Perjanjian Versailles: http://id.wikipedia.org.



6 Rasa tidak suka ini berujung pada kebencian karena beberapa petinggi AD yang merasa bahwa Hitler justru membawa Jerman pada kehancuran. Terdorong hal itu beberapa kali percobaan pembuhan dilakukan oleh orang-orang Angkatan Darat namun Hitler selalu lolos dari maut. Bahkan tahun 1944 salah seorang Petinggi AD yakni Stauffenberg nekat membawa bom dalam ruang rapat Hitler. Walau bom bersebut meledak namun Hitler hanya mengalami luka-luka. Kemudian Hitler manjatuhi hukuman mati pada orang-orang yang terkait pemboman tersebut.

7 Banyak dari pabrik-pabrik ini yang sudah lama menyiapkan cetak biru untuk kapal perang, pesawat tempur, meriam, tank dll. Sehingga dalam waktu singkat Jerman bisa mendapatkan penambahan senjata yang signifikan.

8 Herwig Zahorka: Arca Domas-ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesia hlm. 2

9 Oprasi Barbarossa adalah nama offensife Jerman ke Rusia yang dimulai pada 22 Juni 1941 terlambat enam minggu dari yang direncanakan, karena blunder yang dlakukan oleh Musolini di medan peperangan Yunani.

10 Erwin Rommel dikenal juga sebagai Desert Fox atau Rubah Gurun karena ia menunjukkan keberanian serta kegigihannya di medan tempur Afrika bahkan hampir membuat Sekutu meninggalkan Afrika namun karena karena lautan telah dikuasai armada Inggris sehingga bantuan logistik tidak dapat berjalan lancar sehingga offensif Rommel dapat dipukul mundur kembali oleh Sekutu. Rommel sendiri selamat dari pertempuran Afrika dan kembali ke Jerman. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Rommel dipaksa melakukan bunuh diri oleh Hitler karena Hitler menduga Rommel bergabung dengan Jendral-jendral yang ingin melakukan kudeta.



 
Search Engine Optimization - AddMe

Add to Google Reader or Homepage